Blogger Widgets

Kamis, 15 Mei 2014

BIOGRAFI RABI'AH AL-ADAWIYAH



Rabi‘ah binti Ismail al-Adawiyah, berasal dari keluarga miskin. Dari kecil ia tinggal di Bashrah. Di kota ini namanya sangat harum sebagai seorang manusia suci dan seorang pengkhotbah. Dia sangat dihormati oleh orang-orang saleh semasanya. Mengenai kematiannya ada berbagai pendapat: tahun 135 H/752 M atau tahun 185 H/801 M.
Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah, dianggap mempunyai saham yang besar dalam memperkenalkan cinta Allah ke dalam Islam tashawuf. Orang-orang mengatakan bahwa ia dikuburkan di dekat kota Yerussalem.
RABI’AH, LAHIR DAN MASA KANAK—KANAKNYA
Jika seseorang bertanya: ”Mengapa engkau mensejajarkan Rabi’ah dengan kaum lelaki?”, maka jawabanku adalah bahwa Nabi sendiri pernah berkata:“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa kamu” dan yang menjadi masalah bukanlah bentuk, tetapi niat seperti yang dikatakan Nabi, “Manusia-manusia akan dimuliakan sesuai dengan niat di dalam hati mereka”. Selanjutnya, apabila kita boleh menerima dua pertiga ajaran agama dari ’Aisyah, maka sudah tentu kita boleh pula menerima petunjuk-petunjuk agama dari pelayanan pribadinya itu. Apabila seorang perempuan berubah menjadi ”seorang lelaki” pada jalan Allah, maka ia adaIah sejajar dengan kaum lelaki dan kita tidak dapat menyebutnya sebagai seorang perempuan lagi.
Pada malam Rabi’ah dilahirkan ke atas dunia, tidak ada sesuatu barang berharga yang dapat: ditemukan di dalam rumah orang tuanya, karena ayahnya adalah seorang yang sangat miskin. Si ayah bahkan tidak mempunyai minyak barang setetes pun untuk pemoles pusar puterinya itu. Mereka tidak mempunyai lampu dan tidak mempunyai kain untuk menyelimuti Rabi’ah. Si ayah telah memperoleh tiga orang puteri dan Rabi’ah adalah puterinya yang keempat. Itulah sebabnya mengapa ia dinamakan Rabi’ah (artinya ke-empat).
“Pergilan kepada tetangga kita si anu dan mintalah sedikit minyak sehingga aku dapat menyalakan lampu” isterinya berkata kepadanya.
Tetapi si suami telah bersumpah bahwa ia tidak akan meminta sesuatu jua pun dari manusia lain. Maka pergilah ia, pura-pura menyentuhkan tangannya ke pintu rumah tetangga tersebut lalu kembali Iagi ke rumahnya.
“Mereka tidak mau membukakan pintu” ia melaporkannya kepada isterinya sesampainya di rumah.
Isterinya yang malang menangis sedih. Dalam keadaan yang serba memprihatinkan itu si suami hanya dapat menekurkan kepala ke atas lutut dan terlena. Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat Nabi. Nabi membujuknya: “JanganIah engkau bersedih, karena bayi perempuan yang baru dilahirkan itu adalah ratu kaum wanita dan akan menjadi penengah bagi 70 ribu orang di antara kaumku”.
Kemudian Nabi meneruskan; “Besok, pergilah engkau menghadap ‘Isa az-Zadan, Gubernur Bashrah. Di atas sehelai kertas, tuliskan kata-kata berikut ini: ’Setiap malam engkau mengirimkan shalawat seratus kali kepadaku, dan setiap malam jum’at empat ratus kali. Kemarin adalah malam jum’at tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaianmu itu berikanlah kepada orang ini empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal’ “.
Ketika terjaga dari tidurnya, ayah Rabi’ah mengucurkan air mata. Ia pun bangkit dan menulis seperti yang telah dipesankan Nabi kepadanya dan mengirimkannya kepada gubernur melalui pengurus rumahtangga istana.
“Berikanlah dua ribu dinar kepada orang-orang miskin”, gubernur memberikan perintah setelah membaca surat tersebut, ”sebagai tanda syukur karena Nabi masih ingat kepadaku. Kemudian berikan empat ratus dinar kepada si syaikh dan katakan kepadanya: ’Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihat wajahmu. Namun tidaklah pantas bagi seorang seperti kamu untuk datang menghadapku. Lebih baik seandainya akulah yang datang dan menyeka pintu rumahmu dengan janggutku ini. Walaupun demikian, demi Allah, aku bermohon kepadamu, apa pun yang engkau butuhkan katakanlah kepadaku’ “.
Ayah Rabi’ah menerima uang emas tersebut dan membeli sesuatu yang dirasa perlu.

CINTA RA'BIAH AL-ADAWIYAH


CINTA RA'BIAH AL-ADAWIYAH

Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, “Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun meleblhl gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?” “Tidak,” jawab Rabiah dengan suara sangar. Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, “Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya.
Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?” “Pasti,” jawab Rabiah dengan tegas. Lalu ia menjelaskan, “Kalau Tuhan tldak berkenan menerlma tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti darl dosa, jangan simpan kata “akan atau “andaikata” sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu.”
Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, “Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?” Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat. Itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. Bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada disamping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.
Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pundari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismaill pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan . Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.
Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan. siapa-siapa . “Ya Allah,” seru Ismail, “anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya.” Lalu Ismail menggumam, “Amin.” Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tldak punya apa-apa Kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dlrinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan.
Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, “Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya.
Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismall diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.
Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, “Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu ger- bang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapl, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu.”
Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk menekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.
Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isa, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, “Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu.”
Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, “Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu.”
Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, “Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu.
Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: “Apakah engkau akan menikah kelak?” Rabiah mengelak, “Pernikahan merupakan keharusan bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah.” “Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?” “Karena telah kuberikan seluruh hidupku,” ujar Rabiah. “Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?” Dengan tulus Rabiah menjawab, “Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.”

Perempuan Yang Menggetarkan Sejarah Islam


Perempuan Yang Menggetarkan Sejarah Islam

Pada suatu malam, seorang perempuan keluar dari rumah dengan membawa oboryang menyal-nyaa di tangan kanannya dan seember air ditangan kirinya. Ia pergi mengelili kampung dengan berteriak sangat keras, “wahai manusia, seandainya engkau beribadah kepada Allah dan mengharapkan surga. Maka , biarkan surga itu ku bakar dengan api ini!!. Dan apabila engkau menjauhi maksiat oleh sebab takut akan nerak. Maka, biarkan neraka itu ku siram dengan seember air yang ada ditangan kiriku...!!!!
      Siapakah perempuan yang berani mengusik kesadaran orang-orang disekitarnya, dan mungkin juga kita?? Siapa lagi kalau bukan Rabi’ah Adawiyah. Ya, Rabi’ah Adawiyah. Perempuan  sudi yang sepanjang hayatnya mengajarkan cara beribadah kepada Allah dengan motif cinta yang tulus kepada-Nya. Ia adalah sufi yang membawa corak baru dalam penghayatan Islam melalui ajaran cinta. Seluruh ajaran islam  dilaksanakan bukan sebab “ini semua karena perintah-Nya  dan harus dilaksanakan untuk mengharapkan surga-Nya”, bukan pula karena “itu harus dijauhi karena takut akan siksa-Nya”. Namun, ia melaksanakan  perintah dan menjauhi larangan-Nya sebab cinta yang benar-benar cinta (al-hubb haqq al-hubb).
      Bukankah seorang pencinta akan berhias rapi dan wangi dalam shalatnya, melebihi saat perempuan dengan orang yang paling dicintainya sekalipun? Bahkan, kerap kali ia menangis dalam shalatnya. Kucuran air mata pencinta ini adalah bentuk ungkapan kerinduan, kecintaan, kebahagiaan kala “berjumpa” dengan-Nya.
     

Dengarkan, kata-kata Rabi’ah yang terbentuk dalam puisinya :


Ya Tuhanku!
Tenggelamkan aku dalam kecintaan-Mu
Sehingga tiada satupun yang dapat memalingkan aku dari-Mu
Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun
Tiada selain dia dalam hatiku mempunyai tempat manapun
Kekasihku Gaib daripada penglihatanku dan pribadiku sekalipun
Akan tetapi, Dia tidak pernah Gaib didalam hatiku walau sedetik pun

Aku mencintai-Mu....
Oh, Tuhan tercinta...
Dengan cinta yng penuh kesenangan
Karena Engkaulag yang layak di cinta
Adapun cinta hawa
Maka aku sibuk mengingat-Mu daripada yang lain
Kuharap Kau bukan tabir untukku
Hingga aku dapat memandang-Mu
Maka ujian yang ini dan yng itu bukan untukku
Melainkan hanya untk-Mu..



Terinspirasi dari buku “Ya Allah, sungguh aku tak pantas DiSURGA, tapi juga tak kuat DiNERAKA..”
Penulis : Badiatul Roziqin


Buat : kak Sultan Mappunna..
Terima kasih telah meminjamkan buku bacaannya..  meskipun belum selesai di baca :) :)


back latihan sendiri

mencoba berdialog sendiri dan mendapatkan karakter masing-maasing... 
Sadari, RASAKAN DAN LAKUKAN.... !!!!!!



















mulai pendapatan karakter untuk ardi..

rhya (belakang) belum dapat..
hajrah(dkat ardi).. masih pencarian dan belum dapat..


latihan yang serius kawan..

buktikan kita juga bisa...!!! :) :) :)












latihan alone

latihan sendiri-sendiri..mencoba mendapatkan karakter sendiri..


mukanya ardi serius juga latihannya.. di marahi pi lagi.. hahhahaaa.. :) :)
tapi bagus juga kalau begitu.. hahhaaaa...




ardi (baju merah) : muka yang bagus, sudah mulai dapat karakternya.. :) :)



Add caption

Rabu, 14 Mei 2014

CERPEN


TERSERAH 
“Jadi, apa maumu? Sekarang terserah kamu, keputusan ada di tanganmu”. Pertanyaannya sontak membuatku bahagia namun ada pula rasa takut, rasa takut yang selama ini menghantui. Karena pacarku itu selalu nekad. Jika ia merasa kecewa dan sakit hati, ia bisa saja menyakiti dirinya sendiri dengan benda tajam, bahkan bunuh diri pun tidak menjadi mustahil. Ngeri memang.
“Devi, jawab aku!” beberapa pesan yang sama tertera pada layar elektronik yang selama beberapa jam kupegang, namun tak kubalas. Semua ini berawal ketika ia menginginkan suatu hal yang besar.
Pada hari itu hari Sabtu. Selepas pulang sekolah, aku biasa berkumpul dengan anak-anak PASKIBRA. “Nisa, ayo kita kumpul anak-anak sudah menunggu, sebentar lagi latihan dimulai”. Dengan penuh semangat, ia segera menghampiriku dan berjalan menuju sanggar PASKIBRA yang hanya berukuran 2 x 3 meter, tapi menurut kami walaupun sanggar kami kecil kami anggap sebagai rumah kedua kami, tempat berkumpul yang sangat menyenangkan.
“Dev, siapkan anak-anak ke lapangan!”
“Siap laksanakan!”. Dengan tegas aku mematuhi perintah pelatihku. Dengan beranggotakan dua puluh orang aku siapkan pasukan. “Latihan hari ini akan ditingkatkan, karena kita akan mengikuti lomba PASKIBRA antar SMA dan SMP se-Jawa Barat yang dilaksanakan di Majalaya tanggal 25 Desember, persiapan kita hanya satu bulan, jadi akang harap kalian serius dan sungguh-sungguh dalam latihan, mengerti?”, “Siap mengerti!!”. Mendengar pengumuman dari pelatihku membuat aku malas latihan, karena waktu latihan akan semakin lama dan bisa saja sampai sore. Tapi beda lagi dengan Nisa, dia tampak bersemangat dengan senyum simetris di bibirnya. Setelah satu jam kami latihan tiada henti di atas terik matahari yang menyengat dan alas beton lapangan basket yang sangat panas, akhirnya waktu istirahat telah tiba. Kerongkonganku yang kering karena menahan haus, akhirnya tersegarkan oleh sebotol air.
Saat sedang istirahat, aku melihat seorang perempuan yang berjalan dengan temannya, ternyata dia adalah orang yang pernah mengisi hatiku, Astri. Hubungan kami cukup singkat, hanya satu bulan. Aku kaget karena Astri melihatku dengan senyuman manisnya, kubalas dengan senyuman juga, senyuman yang terbaik tentunya. Jantungku berdegup kencang, Astri melambai-lambai padaku, aku hanya diam terpaku, ada apa denganku? Apa yang salah denganku? Ia terus melambai-lambai, aku hanya tersenyum, dan … dan… ah rasa berbunga-bunga dalam hatiku menjadi hancur seketika, ternyata ia melambai dan tersenyum kepada temannya. Haaaah… untungnya aku tidak membalas dengan lambaian, jika aku melakukannya mungkin aku akan meminjam muka orang lain agar orang mengira bukan aku yang melambai.
“Baik anak-anak, istirahat selesai! Buat barisan tiga shaf, dalam hitungan lima harus sudah rapi!”. Dengan gesa-gesa kami merapikan barisan, tentunya sebelum hitungan lima. Kalau lebih, mungkin kami akan di-banding (baca: bending), lari mengelilngi lapangan atau push-up. Latihan berlanjut kembali, kali ini dengan materi baru, gerakan haluan dan melintang. Gerakan ini memang sangat sulit, butuh kekompakkan yang kuat.
Setengah lima sore akhirnya latihan usai, “akang lihat latihan kedua ada peningkatan namun ada juga yang melakukan kesalahan”. Evaluasi memang diperlukan guna mengukur seberapa bagus gerakan kami. “Besok hari Minggu kita latihan kembali, karena jumlah kalian banyak maka akang adakan seleksi, akang akan memilih lima belas orang terbaik di antara kalian dan satu orang sebagai danton, jadi tunjukkanlah yang terbaik!”. Mendengar itu, aku menjadi senakin malas, tapi apa boleh buat. Tapi teman-temanku yang lain tampak bersemangat apalagi perempuan.
Waktu pulang akhirnya tiba, sekitar jam lima sore aku mengantarkan pacarku ke rumahnya dengan motor CS one, tentunya bukan motor milikku, tapi milik Nisa. Ya, memang setiap hari aku melakukan ini. Awalnya tidak keberatan, tapi lama-lama memberatkanku, setiap hari aku harus antar jemput. Rumahnya tidak terlalu dekat, mungkin 20 km atau 30 km, tepatnya di Pasanggrahan kecamatan Ibun, Paseh.
“Tadi latihan yang melelahkan”.
“Iya, sampai-sampai keringatku tidak keluar-keluar”.
“Apa? Kau tidak merasa cape, Ca?”.
“Secara fisik, aku lelah. Tapi dengan rasa semangat rasa cape jadi hilang”. Aku diam sesaat.
“Dev, aku ingin membahagiakan orangtuaku, ini kesempatanku. Jika aku lolos seleksi dan menang dalam lomba, mamahku pasti akan bangga”.
“Aku mendukungmu”.
“Terima kasih Dev”. Niatnya memang baik, membahagiakan orangtua, aku sangat mendukungnya.
Hujan turun dengan deras ketika kami baru sampai di Lampegan. Angin kencang membuatku menggigil kedinginan.
“Ca, mau berteduh?”
“Terus saja, tanggung sebentar lagi sampai”. Mendengar ucapan itu, aku langsung tancap gas sekencang-kencangnya, ia memegang pinggangku dengan erat. Meski dingin tapi apa boleh buat, kami harus segera berteduh agar kesehatan kami tidak terganggu.
“Ca, kita sudah sampai”. Akhirnya kami sampai setelah selesai kumandang adzan maghrib. Aku disuruh ke rumahnya untuk mengeringkan diri karena kami berdua basah kuyup. “Jangan dulu pulang, kita shalat dulu”. Setelah shalat berjamaah, aku disuguhi secangkir teh hangat. “Eh, gak usah mah, jangan repot-repot”. Ibunya Nisa memang baik padaku, kata Nisa aku sudah dianggap anggota keluarga. Tapi, aku merasa malu kepada ibunya. “Srrruuup” aaaah… rasanya nikmat sekali meminum teh hangat saat kedinginan sambil menonton TV.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, aku segera pamitan kepada orang tua Nisa, dan tentunya aku pulang naik motor CS one, ayahnya mengizinkanku, tapi besok aku harus menjemput Nisa.
“Hati dua ya Dev”. Aku mengangguk tersenyum. Dengan kecepatan pelan aku mulai pulang. Aku memilih jalan pintas, karena di Majalaya pasti banjir. Aku terpaksa memilih jalan pintas, karena aku takut dengan jalannya yang gelap dan sepi. “Bismillahirahmanirrahim”. Aku mulai memasuki jalannya semoga tidak terjadi apa-apa. Tapi perasaanku tidak enak, aku merasakan sesuatu yang aneh ketika melewati kebun bambu. Ketika menoleh ke samping aku melihat orang yang memakai baju berwarna putih. “Astaghfirullah!!!” dengan refleks aku memutar tuas gas penuh sampai-sampai hampir ‘jemping’. Aku semakin takut. Aku berusaha melupakan apa yang terjadi. Akhirnya aku sampai di jalan raya. Lega rasanya.
Dengan waktu setengah jam aku sudah sampai di rumah, setelah shalat aku merebahkan badanku di atas kasur yang tidak terlalu empuk. Hari yang melelahkan.
“Eh, hai Astri ada apa?” Astri hanya tersenyum dan ia berjalan ke belekang, mungkin aku harus mengikutinya. Lalu ia menunjuk ke suatu tempat. Aku menoleh. “Astaghfirullah! Siapa itu?” Astri hanya tersenyum manis. Aku kaget dengan pemandangan yang mengerikan ini. “Astri, mau ke mana? Astri tunggu! Astri…!!!”
“Assolatukhairum minannauuum…” ah, itu ternyata hanya mimpi. Mimpi yang aneh. Aku segera bangkit dan mengambil air wudlu.
Pukul setengah tujuh aku berangkat menjempt Nisa, pukul delapan aku sudah sampai. Lalu kami berangkat ke sekolah untuk latihan. Pukul sembilan kami sudah sampai.
“Kenapa Ca? Kamu tidak apa-apa?” geleng kepala. Nampaknya ia sakit dan asmanya kambuh lagi.
“Pusing?”. “Sedikit”.
“jangan memaksakan diri”.
“tidak apa-apa”. Memang pacarku itu keras kepala, kalau bilang A ya harus A.
“Siap gerak!! oke, hari ini adalah penentu kalian. Yang ditepuk bahunya, segera memisahkan diri, mengerti?”, “siap mengerti!!”.
Seleksi pun dimulai, satu demi satu temanku memisahkan diri dan kulihat sudah empat belas orang, tinggal satu orang lagi. Kulirik ternyata Nisa belum terpilih, dan kulihat wajahnya bercucuran keringat menahan rasa pusing. Aku tidak percaya ternyata aku terpilih dalam pasukan. Kulihat bibir Nisa mulai turun.
“Istirahat di tempat gerak! Lemaskan!!”
“Terima kasih!” akhirnya latihan usai.
“Akang sudah tentukan orang-orangnya, bagi yang belum terpilih jangan berkecil hati, masih ada event-event lomba yang lain”. Kulihat Nisa sedang menundukkan kepala, ia merasa sedih. Sampai latihan usai, ia tidak berbicara sedikitpun. Dalam perjalanan pulang pun ia hanya diam. “Sudahlah Ca, mungkin belum saatnya, lain waktu kamu pasti bisa”. Ia menangis, sepanjang jalan pulang ia terus menangis. Berusaha menghiburnya, ia tetap menangis. Jam dua belas kami sampai di rumahnya, masih menangis.
“Ca..”, “pergilah!!” , “Ke.. kenapa?”
“Cepat pergi, kau penghianat!!” aku kaget dan mengkerutkan keningku.
“Mengapa kau terpilih, sedang aku tidak. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi kau merebutnya”
“Bukan seperti i..”
“Pergi! Semuanya kacau, kesempatanku hilang”, “bukan maksudku seperti itu”
“Pergi! Aku muak melihatmu!” dengan terpaksa aku pergi. “Kau dan aku jauh berbeda, aku rendahan yang patut dicaci maki”. Ia terus menghina dirinya sendiri ketika aku berjalan keluar. Ada apa ini? Mengapa ia tega menuduhku? Ia mungkin sedang sedih. Aku pulang naik angkot.
Sesampainya di rumah aku sangat letih sekali dan tanpa kusadar aku tertidur sampai jam empat sore. Malamnya ia menelponku. “Hai Dev, kini kau berhasil, aku sudah gagal, memang aku sangat bodoh” aku hanya diam. “Semua harapanku usai sudah, kesempatanku tidak ada lagi”.
“Jangan berkata seperti itu Ca”.
“Benar, kan?” tiba-tiba sambungannya putus. Tapi ia mengirim pesan SMS. “Sekarang aku sudah tidak punya apa-apa, hidupku sudah tidak berguna lagi, buat apa aku hidup. Aku tidak kuat lagi, lebih baik aku mati sekalian. Aku menelpon balik, tapi nomornya tidak aktif. Aku mulai panik. Ada apa dengannya? Tiap menit aku menelponnya tapi apa daya, semuanya sia-sia, sampai aku lelah dan tertidur sekitar jam satu malam.
Esoknya aku tidak tahu apakah Nisa sekolah atau tidak. Saat waktu istirahat aku tidak sempat menemuinya, karena tugas yang menumpuk. Tapi saat aku belajar Matematika, Nisa mengirimkan pesan. “Aku di sanggar, mencari pisau. Aku sudah tidak berguna lagi”. Kali ini ia benar-benar nekad, aku panik, sangat panik. Terpaksa aku izin ke guruku. Aku beerlari cepat ke sanggar dengan rasa takut dan panik. Kubuka pintu, ternyata susah, dengan sekuat tenaga kudobrak pintu itu. Aku kaget di hadapanku terlihat Nisa sedang memegang pisau tajam. Kejadian ini sama persis dengan mimpiku kemarin malam yang ditunjukkan oleh Astri.
“Apa yang kau lakukan?” aku segera menghalangnya dan berusaha mengambil pisau itu.
“Lepaskan! Biarkan aku mati!” akhirnya aku berhasil melepasnya dan melempar pisau itu ke sudut ruangan. Aku menahan kedua tangannnya karena pasti ia akan melukai dirinya sendiri dengan kuku tajam itu.
“Lepaskan dasar bodoh!”
“Mengapa kau lakukan ini?”
“Semuanya sudah hancur, buat apa aku hidup jika tidak ada yang mengerti dan mempedulikanku”
“Aku peduli padamu”
“Omong kosong! Jika kau peduli padaku, kau mengerti perasaanku”
“Aku mengerti kamu, kamu kecewa terhadap semuanya, kan?”
“Sudah kuduga kau tidak mengerti kepadaku. Lepaskan! Aku mau mati!!” aku semakin panik, rasa takut, sedih, dan kesal semuanya campur aduk. Apa yang harus kulakukan? Ya Allah aku mohon pertolongan-Mu
“Ada apa ini? Dev, kenapa Nisa?” seseorang masuk.
“Tuh, pacaran saja dengan Windi, kalau denganku hidupmu tidak akan bahagia, aku sangat berbeda denganmu bagai air dan minyak yang tak mungkin bersatu. Kamu peernah suka pada Windi, kan?”
“Apa yang kau bicarakan Ca?” Windi bingung.
“Kau sama saja dengan dia! Kau adalah sahabatku, mengapa kau menghianatiku?”
“Apa yang…”
“kau tidak memberi kesempatan untuk mengikuti lomba itu, gara-gara kalian semua harapanku hancur!”. Nisa semakin meronta-ronta, aku sudah lemas manahan tangannya. Selama di ruanagan itu, ia terus menyalahkan orang lain dan terus berusaha melukai dirinya sendiri. Setelah ia lelah, dia tertidur. Aku dan Windi menemaninya. Saat bel pulang berbunyi ia terbangun
“Kau tidak apa-apa Ca?”
“Ayo kita pulang” tanpa basa-basi aku langung persiapan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, tak sepatah kata pun ia ucapkan. Sesampainya di rumah, ia langsung mengurung diri di kamar dan mengunci pintu. “kau boleh pergi sekarang”. Tanpa menjawab aku langsung pulang. Entah akan terjadi apa selanjutnya. Tiba-tiba ada SMS dari Windi, “besok kumpul, latihan kembali”.
Esoknya setelah bel pulang kami kumpul kembali. Kulihat Nisa masih menampakkan wajahnya dengan raut muka yang sedih, mungkin rasa sakitnya belum hilang.
“Ada perubahan rencana. Dikarenakan jumlah putra lebih sedikit, maka akang putuskan semua yang mengikuti lomba adalah putri semua.” Mendengar itu, hatiku senang dan lega, Nisa pun juga ikut senang.
Hari demi hari ia senang dan bersemangat untuk latihan. Tapi, Nisa tidak lupa dengan kekecewaannya. Ia terus mengungkit-ngungkit kembali dan terus menyalahkanku, beberapa kali minta maaf ia tidak merespon. Demi menebus kesalahanku, aku menuruti apa yang diinginkannya. Mulai dari jajan, antar jemput, nonton bioskop, dan lain-lain. Hari demi hari keegoisannya semakin tinggi. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini.
Saat kelas XII, komunikasi di antara kami sangat jarang, bertemu pun tidak sempat, sampai pada suatu saat,
“kau akan mengantarkanku?”
“Maaf Ca aku tidak bisa, aku dilarang pulang malam”
“Aku sedang tidak enak badan”
“Maaf Ca bukannya aku…”
“ya sudahlah, kalau kau mau aku celaka”. Lagi-lagi kata-kata itu, tapi aku sudah tak pedulli, sekarang aku tahu triknya, ia hanya mengancam saja. Toh bila kubiarkan, ia tidak akan terjadi apa-apa. Apakah aku bodoh? Atau aku dibodohi?
Mulai sejak itu, ia marah padaku. Ia seperti tidak kenal padaku. Biarlah. Hubungan kami semakin memburuk. Suatu hari aku membuka akun Facebook-ku, karena aku sudah lama tidak membuka. Kulihat status Nisa:
“Aku yang dulu bukan yang sekarang, aku rindu kamu.. dari dulu aku mencarimu, aku sudah tak sabar bertemu denganmu, S_nd_”
Snd? Sandy maksudnya? Oh, ternyata ia mau balikan dengan mantan yang dulu, tak apalah mungkin dia sudah tidak mencintaiku lagi.
“Putuskan saja dia, Dev. Buat apa menjalani hubungan seperti ini” teman sebangkuku itu memberi saran ketika dia mendengar semua curhatku.
“Tapi aku takut, Fad, dia selalu nekad, bahkan kalau dia sakit hati dia akan…”
“Bunuh diri?”
“Kenapa kau tahu?”
“Dulu, aku tak sengaja membaca SMS Nisa”
“oh, tidak apa-apa”. Saran yang sama dari setiap teman dekatku, terbesit untuk memutuskan hubunganku dengan Nisa.
Setiap malam aku memohon petunjuk-Nya.
“Eh hai Astri”
“Kemarilah”. Aku menurutinya, ia membawaku ke suatu tempat. Astri mengajakku duduk, duduk bersama di bawah pohon yang rindang yang di depannya terdapat alirann sungai yang tenang, membentuk sebuah simfoni, lalu ia berkata, “Yakinilah apa kata hatimu, percayalah kesusahan itu tidak akan selamanya, seperti selepas malam datangnya siang. Kebahagiaan pasti akan datang Dev”
“Apa maksudmu?”
“Percayalah”. Ia lalu bangkit dari duduknya.
“Astri, tunggu aku… kau mau ke mana?”
BRAG!!! Aduh, sakit rasanya jatuh dari keranjangku, rupanya mimpi kembali. Apa maksud mimpiku itu? Entahlah.
Di sekolah, perasaanku mulai berubah. Perasaanku mulai tertuju pada Astri, walaupun hanya mimpi, tapi aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda ketika aku bertemu dengannya. Mungkinkah ini Cinta? Ah aku semakin ngaco.
“Devi, jawab aku!! Mengapa kau tak jawab”. Ah, aku kaget dengan getaran HP-ku. Huh, aku baru tersadar, aku melamun sampai dua puluh menit.
“Jadi, bagaimana Dev?” dengan memberanikan diri ku kirim SMS :
Terserah kali ini, sungguh aku takkan peduli..
Ku tak sanggup lagi jalani cinta denganmu..
Biarkan ku sendiri, tanpa bayang-bayangmu lagi..
Ku tak sanggup lagi.. mulai kini semua.. TERSERAH.
Lalu Nisa membalas, “YA!!!”
TAMAT
Cerpen Karangan: Devi Saidulloh